Selasa, 18 Oktober 2011

Dampak Negatif Perkawinan Sedarah

      Tentu tidak aneh jika seseorang menikah dengan kerabat terdekat misalnya diambil contoh dengan sepupu. Untuk di Indonesia sendiri, masih banyak yang melakukan perkawinan tersebut dengan tujuan untuk mempererat tali kekeluargaan. Dalam keluarga kerajaan atau orang-orang kaya, hal itu lumrah dilakukan untuk menjaga keturunan, akan tetapi dibalik itu semua terdapat suatu hal negatif yang bisa membahayakan keturunannya. Mengapa demikian? Langsung saja ke TKP….
         Perkawinan sedarah atau berdekatan keluarga dalam bahasa medis disebut inbreeding (cosanguineus). Hal ini berlaku untuk 2 individu yang melakukan hubungan pernikahan dalam suatu keluarga atau dengan keluarga terdekat. Individu hasil dari inbdreeding disebut indbred. Sedangkan lawan dari Inbreeding adalah outbreeding (perkawinan random). Derajat keparahan inbreeding tergantung dengan tingkat kedekatan keluarga. Jadi, semakin dekat ikatan keluarga, semakin memperbesar kesempatan mendapat keturunan yang memiliki gen resesif (kemungkinan besar cacat).
      Semakin dekat hubungan keluarga, terdapat gen-gen penyusun individu yang semakin mirip. Nah, apabila dalam satu keluarga terdapat gen resesif (gen yang lemah), kemudian ada anggota keluarga yang melakukan perkawinan sedarah, maka kemungkinan besar persentase munculnya gen resesif semakin besar. Gen resesif muncul jikalau genotifnya homozigot (misalnya rr, kalau heterozigot misal Rr maka r resesif ditutupi R dominan).
Pengaruh inbreeding adalah :
- Kurangnya fraksi heterozigot secara keseluruhan (Hal itu dibuktikan G. Mendel pada percobaan tanaman kacang yang melakukan reproduksi sendiri).
- Maka fraksi homozigot akan bertambah ( pada manusia yang memiliki gen resesif homozigot menyebabkan banyak kelainan genetic dan kadang-kadang letal (mati)).
         Perkawinan terdekat dalam satu keluarga disebut incest, contohnya antara orang tua dan anak maupun saudara laki-laki dengan saudara perempuan. Akan tetapi incest tidak diperbolehkan dalam masyarakat Indonesia karena termasuk tabu dan dosa dalam agama kita (perkawinan ortu ma anak). Perkawinan incest hanya dilakukan pada zaman nabi yaitu antara saudara laki2 dan saudara perempuan.
Yang menjadi bahaya dalam melakukan inbreeding adalah pada faktor keturunan yang dihasilkan. Anak dari pasangan inbreeding memiliki resiko lebih besar dalam masalah kesehatan atau perkembangan dibandingkan dengan anak dari pasangan outbreeding.
Resiko inbreeding jika dipandang dari genetiknya :
  • Jika orang tua memiliki hubungan darah yang dekat maka ada kemungkinan orang tua membagikan gena    resesif mutan kepada keturunannya
  • Manusia mempunyai ± 30000 pasangan gena dalam setiap sel tubuh yang bertanggungjawab pada kesehatan umum & perkembangan.
  • Setiap orang membawa beberapa gena yang oleh suatu sebab dpt mengalami mutasi dan membahayakan karena secara tidak langsung berpengaruh terhadap kesehatan individu tsb. Gena normal biasanya mampu mengatasi gena mutan (jika gena mutan adalah resesif)
  • Pada umumnya 2 orang yang tidak mempunyai hubungan darah tidak mempunyai gena mutan yang sama, tidak seperti pada 2 orang yang mempunyai hubungan darah
  • Terjadi peningkatan resiko untuk membawa gena mutan berbahaya(merugikan) yang sama di antara 2 orang yang mempunyai hubunan darah.
  •  Kemungkinan untuk mempunyai anak cacat pada pasangan inbreeding lebih besar daripada yang outbreeding
  • Pada keturunan dari inbreeding  mempunyai resiko 30% kematian bayi atau menderita abnomalitas berat.
  • Retardasi mental tanpa kelainan fisik juga meningkat pada populasi inbreeding
  • Pada inbreeding sepupu dari keluarga tanpa sejarah kelainan genetic dalam keluarga, mempunyai resiko 2 kali lebih besar daripada yang outbreeding
  • Resiko total untuk munculnya abnormalitas bayi dari pasangan inbreeding sepupu adalah ± 5-6%
  • Pada umumnya kejadian peningkatan resiko tidak terjadi pada kelainan yang disebabkan oleh genaresesif X-linked atau autosomal dominan 
Test yang dapat dilakukan bagi pasangan inbreeding :
-      Pada keluarga dengan tanpa sejarah kelainan yang spesificàtidak ada test yang dapat memprediksi status untuk bayi yang akan dilahirkan, apakah mempunyai resiko menderita kelainan tsb atau tidak.
-    Jika dari keluarga yang menunjukkan adanya individu yang kelainan genetik, besarnya resiko tergantung pada pola keadaan inheritance pada keluarga tsb
-    Pada beberapa kelainan genetic seperti cystic fibrosis atau thalasemia, orang tua dapat ditest untuk melihat apakah mereka membawa gena mutan untuk kelainan ini. Resiko dari yang inbreeding lebih besar dari pada outbreeding.
-     Untuk kelainan genetic poligena maupun multifaktorial seperti spina bifida, beberapa bentuk congenital heart disease, terjadi peningktan resiko pada inbreeding (sulit untuk menghitungnya/ memperkirakan besarnya resiko tsb.)

      Kesimpulan, pada pasangan inbreeding memiliki kemungkinkan lebih besar untuk menurunkan gen resesif pada anak-anaknya. Apalagi pada pasangan yang memiliki gen resesif mutan (struktur DNA yang tidak normal), hal ini tentunya menyebabkan kecacatan pada keturunan yang dihasilkan bahkan dalam beberapa kasus gen resesif bisa menyebabkan letal (kematian pada individu yang memilikinya).

1 komentar:

  1. nice post...sangat bermanfaat :)
    niamts.blogspot.com

    BalasHapus